Jumat, 29 April 2016

UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN

                                   ILMU BUDAYA DASAR
UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN INDONESIA

Amalia Mandawati
50415600
1IA03


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016










PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Istilah kebudayaan merupakan tejemahan dari istilah culture dari bahasa Inggris. Kata culture berasal dari bahasa latin colore yang berarti mengolah, mengerjakan, menunjuk pada pengolahan tanah, perawatan dan pengembangan tanaman dan ternak. Upaya untuk mengola dan mengembangkan tanaman dan tanah inilah yang selanjutnya dipahami sebagai culture.

Sementara itu, kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi. Kata buddhi berarti budi dan akal. Kamus besar Bahasa Indonesia mengartikan kebudayaan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budaya) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat – istiadat. E.B. Taylor mendefinisikan kebudayaan sebagai hal yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, kebiasaan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Menurut Koentjaningrat (1985) kebudayaan adalah keseluruhan ide-ide, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Definisi lebih singkat terdapat pada pendapat Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964), menurut mereka kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Bila disimak lebih seksama, definisi Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi lebih menekankan pada aspek hasil material an kebudayaan. Sementara Koentjaraningrat menekankan dua aspek kebudayaan yaitu abstrak (non material) dan konkret (material). Pada definisi Koentjaraningrat, tampak bahwa kebudayaan merupakan suatu proses hubungan manusia dengan alam dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Dalam proses tersebut manusia berusaha mengatasi permasalahan dan tantangan yang ada dihadapannya.
Terlepas dari perbedaan yang ada di antara pendapat di atas. Tampak bahwa belajar merupakan unsur penting dari pengertian kebudayaan. Seperti terlihat pula pada definisi kebudayaan menurut Kroeber (1948). Menurutnya, kebudayaan adalah keseluruhan realisasi gerak, kebiasaan, tata cara, gagasan, dan nilai-nilai yang dipelajari dan diwariskan, serta perilaku yang ditimbulkannya.
UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN
Pada zaman modern seperti ini budaya asli negara kita memang sudah mulai memudar, faktor dari budaya luar memang sangat mempengaruhi pertumbuhan kehidupan di negara kita ini. Contohnya saja anak muda zaman sekarang, mereka sangat antusias dan mencari berita terbaru untuk mengetahui juga mengikuti perkembangan kehidupan budaya luar negeri. Sebenarnya bukan hanya orang-orang yang tua saja yang harus mengenalkan dan melestarikan kebudayaan asli negara kita tetapi juga para anak muda harus senang dan mencintai kebudayaan asli negara sendiri. Banyak faktor juga yang menjelaskan soal 7 unsur budaya universal yaitu :
1. Sistem Teknologi dan Peralatan
Teknologi semakin lama semakin luas. Karena semakin banyak masyarakat yang hidup modern. Teknologi sangat diperlukan akan tetapi tidak untuk melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma yang berlaku. Sekarang banyak yang menyalahgunakan alat teknologi khususnya internet. Tidak sedikit masyarakat yang tertipu atau melakukan perbuatan asusila dengan internet. Hal tersebut harus kita perhatikan. Jangan sampai kebudayaan kita menjadi negatif dimata negara lain. contoh lainnya dari sistem teknologi dan peralatan adalah peralatan kantor, rumah tangga, pertanian, nelayan, tukang kayu, peralatan ibadah dan sebagainya lagi. Unsur kebudayaan secara universal sangat beragam. Bila kita mempelajari dengan baik maka kita mendapatkan pengetahuan yang sangat bermanfaat.

Contoh Teknologi dan Peralatan:
 1.      Masa Lampau
       Daun Lontar dari sebuah pohon

Daun lontar adalah media atau sarana untuk menulis surat atau pesan kepada orang lain. Dahulu kertas belum ada, sehingga daun menjadi pilihan orang zaman dulu untuk menyampaikan pesan. Selain itu, Para raja zaman dahulu menggunakan daun lontar untuk menulis maklumat atau pengumuman kepada rakyatnya.
2.      Masa Modern
Handphone

Handphone atau telepon genggam adalah sebuah terobosan dalam komunikasi masyarakat modern. Di mana orang bisa saling berkomunikasi di mana saja, asal ada sinyal yang bisa menghubungkan. Saat ini sudah banyak merek – merek terkenal yang memproduksi handpohe, karena memang pasarnya terus berkembang.
2. Sistem Mata Pencaharian Hidup
Mata pencaharian sangat diperlukan untuk setiap masyarakat karena bermanfaat untuk memenuhi kehidupan manusia. Misalnya pegawai/karyawan, petani, nelayan, pedagang, buruh, dan yang lainnya. Hal tersebut merupakan mata pencaharian yang harus kita tekuni. Contoh masyarakat yang hidup dipesisir pantai lebih banyak bermata pencaharian sebagai nelayan atau masyarakat yang hidup di perkotaan lebih banyak bermata pencaharian sebagai pegawai kantoran.

3. Sistem dan Organisasi Kemasyarakatan
Kebudayaan di Indonesia sangat beragam. Terdapat masyarakat Jawa, Sunda, Batak, Bugis dan sebagainya. Dari macam-macam kebudayaan tersebut, perlu ditanamkan nilai-nilai kemanusiaan yaitu membiasakan bergaul dengan kebudayaan yang lain. Dan saling berinteraksi dengan rukun. Di Indonesia banyak terdapat kebudayaan yang harus di lestarikan bersama. Jangan saling kita bersaing untuk kepentingan pribadi dengan kebudayaan lain, karena itu sama saja kita memecah belahkan kebudayaan yang sudah ditanam oleh leluhur sebelumnya.
4. Bahasa
Kebudayaan yang beragam sangat berpengaruh pada bahasa yang dipakainya. Contohnya bahasa Inggris, Jerman, Italia, Sunda, Jawa, dsb. Dari banyak bahasa tersebut kita dapat mempelajarinya untuk pengetahuan yang lebih luas. Tidak hanya bahasa berasal dari bahasa luar negeri saja yang kita pelajari, tetapi bahasa dari negeri Indonesia pun perlu kita pelajari untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia.
5. Kesenian
Salah satu ciri khas dari kebudayaan adalah kesenian. Banyak hal yang bisa kita pelajari mengenai kesenian. Misalnya seni sastra, lukis, musik, tari, drama, kria, dan lain sebagainya. Hal tersebut bagian dari khas yang dimiliki setiap daerah maupun setiap negara. Misalnya untuk kesenian musik, kita bisa mengetahui dan mencari musik yang khas dari setiap daerah maupun negara. Contohnya lagu-lagu daerah ampar-ampar pisang yang berasal dari Kalimantan Selatan yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut.
Contoh kesenian yang ada di Indonesia:
1. Debus - Banten

Debus merupakan salah satu kesenian bela diri yang tujuannya menunjukkan kemampuan manusia yang luar biasa. Tradisi satu ini bisa dikatakan sangat ekstrim karena mempertunjukkan bagaimana seseorang memiliki kemampuan untuk kebal senjata tajam, kebal terhadap air keras, dan segala kemampuan lainnya yang cukup menantang dan menaikkan adrenalin bagi siapa saja yang menyaksikan. Meskipun dinilai ekstrim, debus tetap diperbolehkan dilakukan untuk kepentingan kebudayaan atau upacara adat.
2. Batik

Batik tercatat dalam daftar UNESCO pada tahun 2009 lalu. Batik adalah suatu seni melukis di atas kain menggunakan malam atau lilin dan canting. Ada berbagai pola batik yang bisa kita temukan pada masa sekarang, mulai dari yang tradisional maupun modern. Pola-pola tersebut menjadi ciri khas daerah pembuat batik, seperti Pekalongan atau Madura.
Dampak Positif dan Negatif:
1. Positif
Melalui pariwisata yang menyuguhkan wisata budaya yang mempertunjukkan atau memperlihatkan suatu kesenian terterntu terhadap wisatawan domestik maupun mancanegara, secara tidak langsung akan mengakibatkan terjadinya akulturasi atau peleburan dua kebudayaan yang berbeda namun tidak mengubah kebudayaan asli .
Contoh : desain baju tradisional Indonesia berupa kebaya yang dirancang sesuai dengan kemajuan zaman sehingga terkesan lebih modern.

2. Negatif

Tereksploitasinya kebudayaan secara berlebihan demi kepentingan masyarakat asing, tentu hal ini akan berdampak negatif terhadap perkembangan kebudayaan. Hal ini sering terjadi karena komersialisasi kebudayaan dalam pariwisata yang memfungsikan pola-pola kebudayaan seperti kesenian, tempat-tempat sejarah, adat istiadat, dan monument-monumen di luar fungsi utamanya demi kepentingan masyarakat asing.

6. Sistem Pengetahuan
Ada banyak sistem pengetahuan misalnya pertanian, astronomi, perdagangan/bisnis, hukum dan perundang-undangan, pemerintahaan/politik, dan sebagainya. Hal tersebut juga bagian dari kebudayaan, kita wajib mempelajarinya karena dengan adanya sistem pengetahuan kita menjadi tahu dunia luar dan sangat bermanfaat untuk kehidupan karena berpengaruh pada pekerjaan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak perlu semua kita pelajari cukup beberapa saja kita kuasai, maka akan banyak informasi yang kita dapat.
7. Sistem Upacara Keagamaan
Setiap kebudayaan terdapat kepercayaan yang dianut. Kepercayaan yang dianut di Indonesia ada 5, yaitu Islam, Kristen protestan, Katolik, Hindu dan Budha. Dari kelima agama tersebut terdapat upacara keagamaan yang berbeda-beda. Akan tetapi untuk masyarakat yang tinggal di kota upacara keagamaan sepertinya sudah tidak dilaksanakan lagi kecuali dalam hal-hal tertentu saja. Sedangkan masyarakat yang tinggal didesa masih banyak yang melaksanakan upacara keagamaan tersebut.
Contoh Upacara Keagamaan:
1. Sekaten – Islam

Sekaten merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad dalam bentuk ritual upacara adat yang digelar oleh dua keraton anak kerajaan Mataram, yakni Ngayogyakarto Hadiningrat (Yogyakarta) dan Surakarta Hadiningrat (Solo). Terdapat sejumlah kesamaan dan perbedaan dalam upacara di dua keraton tersebut.
Menyimak sejarah versi masing-masing, ditemukan kenyataan bahwa kedua keraton berbagi cerita sejarah mengenai asal-muasal lahirnya tradisi Sekaten tersebut, yakni dimulai pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16), dan merupakan sebentuk upaya dakwah yang dilakukan para Wali melalui pendekatan seni-budaya.
Nafas seni-budaya sangat terasa dalam ritual upacara adat-keagamaan ini, di mana gamelan menjadi unsur penting di kedua keraton. Di keraton Yogya, gamelan Skaten terdiri dari dua perangkat, yakni gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu. Di keraton Surakarta, dua perangkat gamelan yang menjadi bagian dalam ritual Sekaten bernama Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari. Di dua keraton tersebut, sejak beberapa hari sebelum 12 Robiul Awal (Maulud) gamelan akan dimainkan. Bedanya, di keraton Yogya, prosesi dimulai pada tanggal 6 Rabiul Awal (Maulud), sementara di keraton Surakarta sehari lebih awal, yakni 5 Rabiul Awal (Maulud).
Selama kurang lebih satu minggu, di Masjid Agung masing-masing keraton, gamelan-gamelan tersebut dimainkan. Selama itu pula seputaran Masjid Agung ramai dengan hiruk-pikuk pedagang dan warga yang ingin menyaksikan. Dalam tradisi keraton Yogyakarta, sejak sebulan sebelumnya, biasa juga digelar pasar malam dalam rangka memeriahkan upacara adat-keagamaan ini, sehingga Sekaten juga dikenal dengan sebutan Pasar Malam Perayaan Sekaten.
Pada 12 Rabiul Awal (Mulud), pagi menjelang siang, digelar prosesi Gerebeg Gunungan atau Gerebeg Mulud sebagai puncak Sekaten di masing-masing keraton. Gunungan sendiri merupakan istilah untuk aneka panganan yang disusun menyerupai gunung, yang melambangkan kesuburan dan kersejahteraan dua kerajaan Mataram tersebut. Aneka panganan dalam gunungan berupa hasil bumi, seperti buah-buahan, sayu-mayur, kue-kue, dan lain sebagainya. Di Keraton Surakarta, sepasang gunungan utama dikenal dengan sebutan Gunungan Kakung dan Gunungan Putri.
Warga yang sudah siap sedia sejak subuh tak jarang berebutan untuk mendapatkan aneka panganan dalam gunungan-gunungan tersebut. Bagi warga di lingkungan keraton, panganan-panganan itu lebih dari sekedar kudapan, melainkan sesuatu yang mengandung berkah, yang dianggap bisa membawa perlindungan dan kesejahteraan bagi yang memakannya. 
2. Ngaben - Hindu

Ngaben merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah di Bali, Indonesia. Upacara adat Ngaben merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang. Dalam upacara ini, jenazah diletakkan dengan posisi seperti orang tidur. Keluarga yang ditinggalkan pun akan beranggapan bahwa orang yang meninggal tersebut sedang tertidur. Dalam upacara ini, tidak ada air mata karena mereka menganggap bahwa jenazah hanya tidak ada untuk sementara waktu dan menjalani reinkarnasi atau akan menemukan peristirahatan terakhir di Moksha yaitu suatu keadaan dimana jiwa telah bebas dari reinkarnasi dan roda kematian. Upacara ngaben ini juga menjadi simbol untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal.

KESIMPULAN

Budaya Indonesia adalah seluruh kebudayaan nasional, kebudayaan lokal, maupun kebudayaan asal asing yang telah ada di Indonesia sebelum Indonesia merdeka pada tahun 1945. Sementara itu, kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi. Kata buddhi berarti budi dan akal. Kamus besar Bahasa Indonesia mengartikan kebudayaan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budaya) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat – istiadat. Menurut Koentjaningrat (1985) kebudayaan adalah keseluruhan ide-ide, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Definisi lebih singkat terdapat pada pendapat Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964), menurut mereka kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Faktor yang menjelaskan soal 7 unsur budaya universal yaitu  sistem teknologi dan peralatan, sistem mata pencaharian hidup, sistem dan organisasi kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, sistem upacara keagamaan.


DAFTAR PUSTAKA
https://farhadthlb.wordpress.com/2013/10/02/pengertian-kebudayaan-dan-unsur-unsur-kebudayaan-indonesia/ diunduh pada hari Jum’at, 29 April 2016 pukul 18.57 WIB.
http://www.tentik.com/kenali-10-budaya-unik-berikut-yang-hanya-ada-di-indonesia/ diunduh pada hari Jum’at, 29 April 2016 pukul 19.17 WIB.
http://www.tentik.com/inilah-10-warisan-budaya-indonesia-yang-diakui-internasional/ diunduh pada hari Jum’at, 29 April 2016 pukul 19.17 WIB.
http://pariangan93.blogspot.co.id/2014/05/dampak-pariwisata-terhadap-kesenian.html internasional/ diunduh pada hari Jum’at, 29 April 2016 pukul 19.38 WIB.
https://silontong.com/2014/05/29/21-alat-alat-komunikasi-tradisional-dan-15-modern/ diunduh pada hari Jum’at, 29 April 2016 pukul 20.08 WIB.
http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/1137/sekaten diunduh pada hari Jum’at, 29 April 2016 pukul 20.45 WIB.
http://pusakapusaka.com/upacara-adat-ngaben-tradisi-umat-hindu-di-bali.html diunduh pada hari Jum’at, 29 April 2016 pukul 20.48 WIB.

Senin, 18 Januari 2016

MAKALAH KEHIDUPAN SOSIAL SUKU DI INDONESIA : SUKU BUGIS

MAKALAH
KEHIDUPAN SOSIAL SUKU DI INDONESIA :
SUKU BUGIS
                       

Disusun Oleh :

Amalia Mandawati
        50415600
          1IA03



FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS GUNADARMA

2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2 Tujuan................................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................. 2
2.1 Asal Usul Suku Bugis........................................................................................ 2
2.2 Bahasa Suku Bugis............................................................................................ 2
2.3 Perlengkapan dan Peralatan Hidup.................................................................... 2
2.4 Sistem Mata Pencaharian................................................................................... 3
2.5 Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial........................................................ 3
2.6 Kesenian Suku Bugis.........................................................................................5
BAB III PENUTUP......................................................................................................... 7
3.1 Kesimpulan........................................................................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 8




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bangsa Indonesia kaya akan keanekaragaman suku, agama, dan bahasa yang memungkinkan diadakannya penelitian ­bidang folklor. Pengetahuan dan penelitian folklor sangat untuk inventarisasi, dokumentasi, dan referensi. Tradisi adalah kebiasaan turun-temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai budaya masyarakat bersangkutan. Tradisi anggota masyarakat berprilaku baik dalam pan yang bersifat duniawi maupun terhadap hal-hal yang bersifat gaib dan keagamaan (Esten, 1999: 21). Suku Bugis sebagai salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan memiliki nilai kebudayaan tersendiri. Salah satu kekayaan budaya Bugis ialah folklor. Folklor dalam masyarakat Bugis biasanya ditransmisikan dari satu generasi ke generasi lainnya melalui penuturan lisan. Penuturan lisan demikian lazim disebut sastra lisan. Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. Suku Bugis merupakan penduduk asli Sulawesi Selatan. Di samping suku asli, orang-orang Melayu dan Minangkabau yang merantau dari Sumatera ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di kerajaan Gowa, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. Berdasarkan sensus penduduk tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak 6 juta jiwa. Kini suku Bugis menyebar pula di propinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, bahkan hingga manca negara. Bugis merupakan salah satu suku yang taat dalam mengamalkan ajaran Islam.
1.2  Tujuan
1.      Asal usul suku Bugis.
2.      Peralatan dan perlengkapan hidup.
3.      Sistem mata pencaharian.
4.      Sistem kekerabatan dan organisasi sosial
5.      Kesenian suku Bugis.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Asal Usul Suku Bugis
Suku Bugis tergolong kedalam suku-suku Melayu Deutero yang masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia, tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan “ugi” merujuk pada raja pertama Kerajaan Cina yang terdapat di Pammana (kabupaten Wajo saat ini, yang dimaksud Cina disini adalah nama sebuah daerah di Sulsel, bukan negara Cina) yaitu La Sattumpugi. Rakyat La Sattumpugi menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai.  Ia bersaudara dengan Batara Lattu yang merupakan ayah dari Sawerigading. Sawerigading menikah dengan We Cudai dan memiliki beberapa anak.  Salah satu anak mereka adalah La Galigo, seorang pengarang sastra terbesar di dunia yang menghasilkan karya  berisi sekitar 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) merupakan kisah tradisi masyarakat Bugis yang tertuang didalam karya sastra I La Galigo. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwu, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain yang ada di Sulawesi, seperti Buton.
2.2 Bahasa Suku Bugis
Etnik Bugis mempunyai bahasa tersendiri dikenali sebagai Bahasa Bugis (Juga dikenali sebagai Ugi). Konsonan di dalam Ugi pula di kenali sebagai Lontara yang berdasarkan tulisan Brahmi. Orang Bugis mengucapkan bahasa Ugi dan telah memiliki kesusasteraan tertulis sejak berabad-abad lamanya dalam bentuk lontar. Huruf yang dipakai adalah aksara lontara, sebuah sistem huruf yang berasal dari Sanskerta. Seperti halnya dengan wujud-wujud kebudayaan lainnya. Penciptaan tulisan pun diciptakan karena adanya kebutuhan manusia untuk mengabdikan hasil-hasil pemikiran mereka.
2.3 Perlengkapan dan Peralatan Hidup
Dengan terciptanya peralatan untuk hidup yang berbeda itu, maka secara perlahan tapi pasti, tatanan kehidupan perorangan, dilanjutkan berkelompok, kemudian membentuk sebuah masyarakat, akan penataannya bertumpu pada sifat-sifat peralatan untuk hidup tersebut. Peralatan hidup ini dapat pula disebut sebagai hasil manusia dalam mencipta. Dengan bahasa umum, hasil ciptaan yang berupa peralatan fisik disebut teknologi dan proses penciptaannya dikatakan ilmu pengetahuan dibidang teknik.
Sejak  dahulu, suku Bugis di Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelaut yang ulung. Mereka sangat piawai dalam mengarungi lautan dan samudera luas hingga ke berbagai kawasan di Nusantara dengan menggunakan perahu Pinisi.
2.4 Sistem Mata Pencaharian
Wilayah Suku Bugis terletak di dataran rendah dan pesisir pulau Sulawesi bagian selatan. Di dataran ini, mempunyai tanah yang cukup subur, sehingga banyak masyarakat Bugis yang hidup sebagai petani. Selain sebagai petani, Suku Bugis juga di kenal sebagai masyarakat nelayan dan pedagang. Meskipun mereka mempunyai tanah yang subur dan cocok untuk bercocok tanam, namun sebagian besar masyarakat mereka adalah pelaut. Mereka mencari kehidupan dan mempertahankan hidup dari laut. Tidak sedikit masyarakat Bugis yang merantau sampai ke seluruh negeri dengan menggunakan Perahu Pinisi-nya. Bahkan, kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudera cukup dikenal luas hingga ke luar negeri, diantara wilayah perantauan mereka, seperti Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, AustraliaMadagaskar dan Afrika Selatan. Suku Bugis memang terkenal sebagai suku yang hidup merantau. Beberapa dari mereka, lebih suka berkeliaran  untuk berdagang dan mencoba melangsungkan hidup di tanah orang lain. Hal ini juga disebabkan oleh faktor sejarah orang Bugis itu sendiri di masa lalu.
2.5 Sistem Kekerabatan dan Organisasi Sosial
Suku Bugis merupakan suku yang menganut sistem patron klien atau sistem kelompok kesetiakawanan antara pemimpin dan pengikutnya yang bersifat menyeluruh. Salah satu sistem hierarki yang sangat kaku dan rumit. Namun, mereka mempunyai mobilitas yang sangat tinggi, buktinya dimana kita berada tak sulit berjumpa dengan manusia Bugis. Mereka terkenal berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan, pekerja keras demi kehormatan nama keluarga. Sedangkan untuk kekerabatan keluarga mereka menganut system cognatic atau bilateral, seseorang ditelusuri melalui garis keturunan ayah dan juga ibu. Panggilan yang biasa untuk kerabat mereka adalah kaka’(saudara yang lebih tua) dan Anri’(saudara yang lebih muda). Amure’(paman) dan Inure’(bibi). Masih banyak lagi sebutan dalam sistem kekerabatan mereka yang lainnya. Perkawinan (Siala’) berarti saling mengambil antara satu dengan yang lain. Di suku Bugis, perkawinan biasanya berlangsung antar keluarga dekat atau antar kelompok petronasi yang sama, dimaksudkan untuk pemahaman yang lebih mudah antar keluarga. Dalam La Galigo diceritakan perkawinan dengan sepupu satu kali (istilah Jawa: misanan) dianggap terlalu panas (Siala Marola) hanya terjadi di keluarga bangsawan, supaya Darah Putih mereka tetap terpelihara.Yang terpenting bagi mereka adalah kesesuaian derajat antara pihak laki-laki dan perempuan. Dalam proses perkawinan, pihak laki-laki harus memberikan mas kawin kepada perempuan (sama halnya adat Jawa kebanyakan) yang terdiri dari dua bagian, yaitu Sompa (biasanya dalam nominal uang) dan Dui’ Menre’ (mahar permintaan dari pihak perempuan). Sistem organisasi sosial yang terdapat di suku Bugis cukup menarik untuk diketahui. Yaitu, kedudukan kaum perempuan yang tidak selalu di bawah kekuasaan kaum laki-laki, bahkan di organisasi sosial yang berbadan hukum sekalipun. Karena Suku Bugis adalah salah satu suku di Nusantara yang menjunjung tinggi hak-hak Perempuan. Sejak zaman dahulu, perempuan di suku Bugis sudah banyak yang berkecimpung di bidang politik setempat. Jadi, banyak perempuan Bugis yang berani tampil di muka umum, mereka aktif dalam semua bidang kehidupan, menjadi pendamping pria dalam diskusi urusan publik, tak jarang pula mereka menduduki tahta tertinggi di kerajaan. Misalnya Raja Lipukasi pada tahun 1814 dipimpin oleh seorang perempuan. Sampai perang kemerdekaan pun, perempuan tetap berperan aktif dalam medan laga. Namun di lain hal, pepatah Bugis mengatakan,”Wilayah perempuan adalah sekitar rumah sedangkan ruang gerak laki-laki menjulang hingga ke langit”. Artinya, laki-laki lah yang berkewajiban menafkahi keluarga dengan sekuat tenaga. Jadi kedudukan kaum perempuan yang derajatnya hampir disamakan dengan derajat laki-laki dalam sistem organisasi sosial, bukan berarti kaum perempuan wajib untuk mencari nafkah bagi keluarganya melainkan seorang laki-laki lah yang wajib bekerja keras untuk menghidupi keluarganya.
 
                  Suku Bugis



                    Suku Bugis

2.6 Kesenian Suku Bugis Kecapi
Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis, Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang memiliki dua dawai, diambil karena penemuannya dari tali layar perahu. Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan, bahkan hiburan pada hari ulang tahun. Ciri khas pada jenis musik ini teletak pada isi lagu dan instrumen (alat musiknya).Dari keunikan alat musik tersebut bisa nampak terlihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Seni tradisonal itu sendiri mempunyai semangat. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang dipenuhi dengan ornamen/ukiran yang indah. Alat musik petik lainnya yang bentuknya menyerupai kecapi adalah Hapetan dari daerah Tapanuli, Jungga dari Sulawesi Selatan.
Gendang
Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar seperti rebana.

Suling
Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:
·         Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.
·         Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan dimainkan bersama penyanyi
·         Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau acara penjemputan tamu.

Seni Tari
·         Tari pelangi adalah tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.
·         Tari Paduppa Bosara adalah tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran dan kehormatan.
·         Tari Pattennung adalah tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan perempuan-perempuan Bugis.
·         Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari adalah tarian yang dilakukan oleh calabari (waria), namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.
·         Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa’, tari Pa’galung, dan tari Pabbatte.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Suku Bugis tergolong kedalam suku-suku Melayu Deutero yang masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia, tepatnya Yunan. Kata “Bugis” berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Etnik Bugis mempunyai bahasa tersendiri dikenali sebagai Bahasa Bugis (Juga dikenali sebagai Ugi). Konsonan di dalam Ugi pula di kenali sebagai Lontara yang berdasarkan tulisan Brahmi. Orang Bugis mengucapkan bahasa Ugi dan telah memiliki kesusasteraan tertulis sejak berabad-abad lamanya dalam bentuk lontar. Sejak  dahulu, suku Bugis di Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelaut yang ulung. Mereka sangat piawai dalam mengarungi lautan dan samudera luas hingga ke berbagai kawasan di Nusantara dengan menggunakan perahu Pinisi. Dengan bahasa umum, hasil ciptaan yang berupa peralatan fisik disebut teknologi dan proses penciptaannya dikatakan ilmu pengetahuan dibidang teknik. Wilayah Suku Bugis terletak di dataran rendah dan pesisir pulau Sulawesi bagian selatan. Di dataran ini, mempunyai tanah yang cukup subur, sehingga banyak masyarakat Bugis yang hidup sebagai petani. Selain sebagai petani, Suku Bugis juga di kenal sebagai masyarakat nelayan dan pedagang. Meskipun mereka mempunyai tanah yang subur dan cocok untuk bercocok tanam, namun sebagian besar masyarakat mereka adalah pelaut.

DAFTAR PUSTAKA

http://h3rcul3z.blogspot.co.id/2014/04/my-computer-normal-hercules-20-3-200.html, diunduh pada tanggal 17 November 2015 pukul 06.13 WIB.
https://yudhairfan.wordpress.com/2011/02/11/kebudayaan-bugis/, diunduh pada tanggal 17 November 2015 06.33 WIB.
http://chyiw.blogspot.co.id/2014/01/berbagai-adat-tradisi-suku-bugis-2.html, diunduh pada tanggal 17 November pukul 06.52 WIB.
http://phardianti.blogspot.co.id/2012/03/suku-bugis.html, diunduh pada tanggal 18 November 2015 pukul 20.36 WIB.
https://bugiskha.wordpress.com/2012/04/09/awal-mula-suku-bugis/comment-page-1/, diunduh pada tanggal 18 November 2015 pukul 20.59 WIB.
http://suhartoatto.blogspot.co.id/2013/08/asal-usul-suku-bugis.html, diunduh pada tanggal 19 November 2015 pukul 20.48 WIB.